MRT merupakan suatu keharusan di kota-kota metropolitan, tidak mungkin kota-kota tersebut bertumpu pada angkutan pribadi ataupun angkutan yang bergantung pada angkutan umum berbasiskan jalan seperti di Jakarta, penambahan lajur/jalan baru ibarat orang kegemukan melonggarkan ikat pinggang untuk mengatasi kegemukannya sebagaimana dikatakan Hyatt. Saat ini Jakarta yang walaupun memiliki angkutan Kereta api Jabotabek yang kwa kapasitas masih tidak terlalu tinggi, maupun jadwal yang tidak terlalu kerap, masalah lain yang juga kita lihat adalah busway yang tidak berfungsi dengan baik karena tidak didukung penegakan hukum terhadap penggunaan jalur khusus bus tersebut serta kapasitas angkut yang masih rendah.
Jakarta telah mempersiapkan rencana pembangunan MRT sejak awal tahun 1990an namun setelah hampir 20 tahun belum juga terwujud. Memang pengambilan keputusannya tidak gampang karena biaya yang dibutuhkan sangat besar kurang lebih 1 Triliun rupiah perkilometer, sehingga menjadi pertanyaan apakah investasi sebesar itu akan memberikan nilai tambah untuk masyarakat Jakarta ?. Itupun hanya untuk satu koridor saja padahal dengan satu koridor tidak akan memberikan manfaat yang signifikan untuk masyarakat Jakarta, yang dibutukan suatu jaringan dengan aksesibilitas yang luas seperti yang diterapkan di London, Paris Tokyo dan sekarang Singapore lagi dalam proses pengembangan jaringan MRT mereka.

Pada tahun 2004 pada saat Jakarta menerapkan Busway banyak ahli memperkirakan bahwa dengan busway saja kita bisa menyelesaikan permasalahan transportasi di Jakarta, nyatanya tidak demikian, Jakarta telah memiliki 10 koridor tetapi belum juga menyelesaikan permasalahan karena busway hanya dipatuhi secara penuh dikoridor 1 saja diluar itu penggunaan busway tidak efektip. Pada tahun 2004 juga sektor swasta mempersiapkan pembangunan Monorail, yang kemudian mandek pembangunanannya karena beberapa alasan diantaranya study kelayakan yang tidak baik serta pemerintah tidak mau ikut share dalam pembangunannya.

MODA ANGKUTAN SEPERTI APA YANG DIPERLUKAN

Moda angkutan yang diperlukan tentu perlu dikaitkan dengan koridor yang akan dilayani semakin tinggi permintaan semakin besar kapasitas angkut yang diperlukan. Pada tabel berikut ditunjukkan karakteristik teknis dan operasional sistem angkutan massal.

Dengan melihat kepada besarnya permintaan angkutan dikota-kota metropolitan Indonesia, khususnya Jakarta dan Surabaya, sudah diperlukan moda dengan kapasitas yang besar seperti Metro (MRT) pada jalur utama beserta Busway pada koridor-koridor pengumpannya.

Optimalisasi infrastruktur yang ada perlu menjadi pertimbangan utama, seperti ditunjukkan dalam gambar berikut, dimana optimalisasi dilakukan dengan pengalihan penumpang ke angkutan massal.

Sumber Todd Litman 2009

APA YANG DAPAT DILAKUKAN

Untuk memecahkan permasalahan transportasi dikota-kota besar dibutuhkan komitment yang kuat dari pemerintah pusat maupun daerah serta didukung dengan leadership yang kuat sebagai persyaratan pertama yang harus dipenuhi pemerintah. Kedua dibutuhkan perencanaan jangka panjang yang baik yang didukung dengan pendanaan untuk pembangunan dan pengoperasian sistem angkutan masal ini; yang juga diperlukan adalah pengawalan dan penggendalian jalannya rencana tersebut agar dapat diselesaikan sesuai waktu dan rencana yang dibuat. Ketiga optimalisasi infrastruktur yang sudah ada semaksimal mungkin diantaranya yang penting adalah bagaimana memanfaatkan secara maksimal jaringan kereta api Jabotabek dengan meningkatkan kualitas pelayanan termasuk meningkatkan frekuensi pelayanan, kerjasamakan lahan disekitar stasiun KA Komuter dengan pengembang, tiketing yang modern dan terpadu dengan moda lainnya termasuk dengan busway serta untuk persilangan sebidang perlu dilakukan pembangunan flyover ataupun underpass untuk mengatasi antrian kendaraan yang panjang dipersilangan sebidang. Sedang proyek busway perlu diteruskan dengan meningkatkan pelayanan, menambah kapasitas khususnya pada jam sibuk dengan menggunakan bus tempel, enforcement yang kuat terhadap kendaraan pribadi yang menggunakan jalur khusus bus, fasilitas parkir dengan tarip rendah ataupun gratis diujung-ujung jaringan busway, penyempurnaan manajemen BLU. Dan tak kalah penting pembatasan penggunaan kendaraan pribadi yang akan menjadi kunci keberhasilan meningkatkan penggunaan moda angkutan umum, dan untuk mendukung itu sudah ada dasar hukumnya dalam UU no. 22 tahun 2009 yang baru tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dalam pasal 133 ayat (3) dibuka peluang untuk menetapkan retribusi pengendalian lalu lintas sebagai salah satu wujud pembatasan lalu lintas.

PENDANAAN PEMBANGUNAN ANGKUTAN MASSAL

Pengoperasian angkutan masal yang baik tidak mungkin lepas dari subsidi, baik subsidi untuk operasi apalagi subsidi untuk infrastruktur, untuk itu dibutuhkan segala upaya untuk bisa memberikan pelayanan angkutan yang baik, dengan pelayanan yang lebih baik dibutuhkan anggaran operasional yang lebih besar pula.

Sumber pendanaan menurut UITP(2003) bisa diperoleh dari:

  • Polutters pay, siapa yang ikut mencemari lingkungan dengan Gas Rumah Kaca yang diemisikan dari kendaraan pribadi harus ikut membiayai angkutan massal yang emisi GRKnya rendah.

    · Siapa yang memperoleh manfaat dari angkutan massal harus ikut membayar, sebagai contoh di Hongkong, bangunan yang berada disekitar korridor angkutan massal harus ikut memberikan sebagian dari manfaat yang mereka peroleh, Paris dan diikuti oleh berbagai kota lainnya di Perancis menerapkan pajak kepada perusahaan yang memperkerjakan lebih dari 9 karyawan berupa The French Transport Tax (Versement Transport) yang digunakan untuk subsidi angkutan umum.

    • Masyarakat umum harus ikut membiayai apakah mereka sebagai pengguna (melalui karcis yang mereka bayar pada saat menggunakan angkutan massal) ataupun secara tidak langsung dalam bentuk pajak pusat maupun pajak dan retribusi daerah yang dapat berupa pajak bahan bakar, retribusi pengendalian lalu lintas, retribusi parkir sebagaimana diatur dalam beberapa undang-undang.

    PEMBANGUNAN MRT

    Pemerintah Jepang sudah commit dengan pembangunan MRT koridor Utara – Selatan, proses disain sedang dilaksanakan dan diperkirakan bisa beroperasi pada 2014 sepanjang proses pembangunannya tidak molor. Untuk itu perlu suatu kerjakeras dan political willl yang kuat agar segala permasalahan yang timbul selama proyek pembangunan dapat segera diselesaikan dan tidak menunda lagi projek pembangunan.

    Memang biaya pembangunannya sangat mahal, tetapi transportasi suatu kota metropolitan tidak akan effisien kalau tidak didukung dengan suatu sistem angkutan massal yang berkapasitas tinggi dan mempunyai jaring-jaring pelayanan luas. Untuk mempercepat tercapainya jaringan pelayanan yang luas maka proyek MRT harus dikawinkan dengan KA Jabotabek, Busway yang berfungsi dengan baik serta jaringan pelayanan bus pengumpan/feeder yang luas. Bus pengumpan juga ditingkatkan pelayanannya sehingga dapat diperoleh pelayanan angkutan umum bus yang baik.

    Perlu pula langkah untuk memperluas jaringan MRT selain jalur Utara Selatan dibutuhkan pula jalur Timur Barat, Jalur lingkar luar dan yang paling penting adalah integrasinya dengan jaringan KA Jabotabek agar diperoleh jaringan yang lebih luas. Untuk itu perlu berbagai langkah untuk menyempurnaan pelayanan KA Jabotabek menjadi pelayanan angkutan masal berkapasitas tinggi.

    Penerapan reatribusi pengendalian lalu lintas pun sebagaimana diamanatkan oleh UU yang baru perlu segera diimplementasikan sehingga kita akan mendapatkan suatu angkutan perkotaan yang efisien dan efektip sebagai suatu push and pull faktor penggunaan angkutan umum.

    Daftar Referensi

    1. Brand.C., J. Preston, Which technology for urban public transport?: A Review of system performance, costs and impacts, TRANSPORT 156 Issue TR4, Oxford, 2003.
    2. UITP Position Paper, The Financing of Public Transport Operations, Paris, 2003
    3. UITP Position Paper, Assessing the benefits of public transport, Paris, 2009,
    4. Undang-undang no 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
    5. Justin Hyatt, Sustainable Mobility Guide for Municipalities, Developed by the Hungarian Young Greens
    6. Todd Litman, Evaluating Public Transit Benefits and Costs: Best Practices Guidebook, Victoria Transport Policy Institute, 2009

    1

    Lihat komentar

    Memuat